BEM Unila Gelar Dialog Kebangsaan

NATURAL/ISNAENI




UNILA – BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Lampung menggelar Dialog Kebangsaan yang bekerja sama dengan Pol-Tracking (Lembaga Riset Dan Survei Politik). Pol-Tracking Institute menggelar forum “Dialog Kebangsaan” di 15 kampus ternama di  Indonesia, salah satunya di Unila dengan peserta terbanyak mencapai 3000. 

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk membangun kesadaran berpolitik dikalangan civitas akademika. “Dari Kampus untuk Negeri Mencari Pemimpin Indonesia”  adalah tema dialog yang terpampang didepan dengan keempat foto tokoh nasional.

Presiden BEM Unila, Nanda Satriana mengatakan dalam sambutannya bahwa dalam dialog yang dilaksanakan di GSG (Gedung Serba Guna) Unila ini menghadirkan empat tokoh besar nasional. Empat tokoh tersebut adalah H. Irman Gusman, S.E., M.BA. (Ketua DPD RI), Dr. H. Wiranto, S.H., M.H. (Ketua Umum Partai Hanura), Ir. H. Isran Noor, M.Si. (Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten) dan M. Anis Matta, Lc. Empat tokoh nasional tersebut langsung di moderatori oleh Hanta Yuda A.R, MA (Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute).

Empat tokoh nasional ini banyak mengungkap masalah kenegaraan seperti korupsi, kemiskinan, pendidikan dan beberapa lontaran pertanyaan dari para peserta  hingga pencalonan presiden 2014 mendatang.

Oleh Isnaeni Widowati S.

Maksimalkan Fungsi Lahan Parkir FMIPA

Rabu (21/11) sore lalu,terlihat sekumpulan mahasiswa duduk lesehan di area lahan parkir membentuk lingkaran. Mereka memanfaatkan lahan parkir yang belum lama dibuat oleh pihak Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila). Lahan parkir yang berlokasi dekat pelataran Gedung Kesekretariatan  FMIPA ini memang acap kali digunakan sebagai lokasi untuk berdiskusi oleh mahasiswa.

Prof. Suharso, Phd. selaku dekan FMIPA mengatakan beberapa pohon memang sengaja dibiarkan tetap tumbuh disana agar tetap menjadi tempat yang nyaman. "Sengaja pohon-pohon disana tidak 'dibuang' semua, biar tetap nyaman untuk mahasiswa yang ingin belajar sembari duduk lesehan," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/11) lalu.

Keberadaan lahan parkir memang sangat penting bagi mahasiswa FMIPA. Khususnya yang memiliki kendaraan bermotor. Menurut Suharso, pembukaan lahan parkir ini ditujukan untuk meningkatkan fasilitas  pelayanan infrastruktur bagi mahasiswa. Hal senada juga disampaikan oleh Hapin Afriani (Kimia ’10), Wakil Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA. Menurutnya lahan parkir sangat penting bagi mahasiswa yang membawa kendaraan agar mereka tidak parkir sembarangan dan was-was akan kendaraan mereka saat menjalani perkuliahan di kelas.

Meskipun pembuatan  lahan parkir ini telah selesai sejak beberapa bulan yang lalu, namun sampai saat ini belum terlihat barisan kendaraan bermotor yang parkir disana. Menurut Hapin, tidak adanya sosialisasi bagi para mahasiswa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Kami sudah menyediakan fasilitas, tinggal kalian (hahasiswa) yang mengisinya dan memanfaatkannya," terang Suharso. Dia juga menambahkan agar mahasiswa yang ada di lembaga kemahasiswaan ikut mengajak dan memulai penggunaan lahan parkir tersebutsebelum peraturan diturunkan.

Dalam wawancaranya, Suharso juga mengatakan, peningkatan keamanan lahan parkir akan terus dilakukan. Mengingat masih kurangnya petugas keamanan di lingkungan FMIPA. “Mungkin nanti akan diberlakukan penggunaan stiker khusus atau harus menunjukkan STNK bagi mahasiswa yang parkir, dan bagi orang luar akan dikenakan biaya,” jelas Suharso diakhir wawancara. (Nafi/Shela/Fajar)

Peserta OSN-PTI Meningkat 45%



Pertamina kembali menjadi penyelenggara Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) bersama Universitas Indonesia yang sudah dua tahun ini menjadi sekertariat olimpiade ini dan Universitas Lampung menjadi tempat penyelenggaraan seleksi teori pada 27 November lalu.

Pada tahun sebelumya peserta yang mengikuti harus sudah duduk disemester tiga namun pada tahun ini mahasiswa baru semester satu sudah bisa mengikuti. Hal ini merupakan kebijakan yang berlaku untuk mahasiswa D3 atau S1 Perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta yang sudah ditentukan oleh kesertariatan dan badan yang menyelenggarakan.

Dibandingkan tahun lalu, tahun 2013 ini peserta OSN-PTI meningkat 45%. Hal ini menujukkan bahwa antusias mahasiswa semakin meningkat untuk mengembangkan kemampuannya melalui olimpiade ini.

Bisa dilihat bahwa ditahun 2012 jumlah peserta yang terdaftar adalah 562 peserta sedangkan pada tahun 2013 jumlah peserta yang terdaftar adalah 1030 peserta kategori teori yang terbagi menjadi 4 bidang yaitu, Bidang Matematika 323 peserta, Bidang Fisika 195 peserta, Bidang Kimia 223 peserta,dan Bidang Biologi 289.

OSN-PTI terbagi menjadi beberapa kategori, Teori dengan 1030 peserta, Aplikasi Lunak berjumlah 6 peserta, Sains Project 15 peserta, Rancang Bangunan 6 Peserta, dan Peserta Produk Research 6 Peserta.

Drs.Tugiono, M.Si., Ph.D., ketika diwawancarai, (20/11) lalu mengatakan bahwa untuk juara 1 tingkat provinsi di tahun sebelumnya tidak boleh mengikuti olimpiade ini namun untuk juara 2 dan 3 diperbolehkan dan hal ini sudah menjadi peraturan yang telah ditentukan oleh badan pelaksana. Pembntu dekan III FMIPA ini juga menambahkan bahwa hadiah untuk juara 1 kategori teori akan mendapatakan uang Rp6 juta, juara 2 Rp4,5 juta dan juara 3 Rp2,5 juta. (Indy,Anita,Sintia)

UKT dan Mahasiswa dalam Pendidikan

Ketua umum HIMAFI Unila



Yihaaa...
Yihaaa...
Kata tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak terlupakan ketika memasuki gerbang Unila. Bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kampus adalah pendidikan. Pendidikan ini akan mempengaruhi kualitas kampus pada umumnya, begitu juga kampus kita. 

Apabila kita membandingkan pendidikan yang diterapkan ada persoalan yang harus digarisbawahi untuk pendidikan di kampus hijau kita. Salah satunya adalah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Wuih, agak berabe tuh kalau dihubungkan dengan beasiswa seperti bidik misi. 

Perubahan pola pembayaran ini sebenarnya bertujuan untuk mempermudah mahasiswa, antara lain mahasiswa sudah tidak lagi dikenakan biaya gedung, praktikum atau biaya lainnya, Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan suatu upaya untuk mewujudkan biaya kuliah yang murah di perguruan tinggi seluruh negeri. 

Dengan sistem ini, mahasiswa sudah tidak akan dikenakan biaya gedung, praktikum, atau biaya tambahan lainnya. Ini yang berbeda dengan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Kita kembali kepada realitas kampus hijau kita yang banyak berkicau dengan UKT. Kendala ini bermunculan seiring berjalannya waktu, diantaranya ketidakmampuan membayar UKT. Salah satu problem ini sebenarnya sudah terpolakan untuk pengajuan keringanan UKT atau pengajuan tidak mampu membayar UKT dapatlah dilakukan melalui jalur advokasi secara resmi atau melalui lembaga-lembaga resmi mahasiswa seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) baik universitas maupun fakultas. Lagi-lagi adalah kesiapan yang perlu dipersiapkan secara matang. Hal diatas adalah sekelumit permasalahan yang timbul dari adanya sistem kebijkan pendidikan.

  
Anggaran 20 persen untuk pendidikan?
Dari konfirmasi yang didapat dalam berbagai pemberitaan, besaran UKT dan sistem yang diberlakukan ditujukan untuk pembangunan gedung-gedung baru yang lebih modern. Padahal sebagai PTN, kampus juga seharusnya mendapat pasokan dana dari Anggaran Pemerintah Belanja Negara dan Daerah (APBN-D) sebesar sekurang-kurangnya 20 persen yang sudah diatur dalam UUD 1945 dan diperjelas oleh Mahkamah Konstitusi. Dari kampus sendiri tampaknya belum bisa hidup secara mandiri agar keuangan mahasiswa tidak terbebani. Apa hasilnya, biaya kuliah bisa ditekan sedemikian rupa, bahkan jika dibandingkan biaya berkuliah di PTS tersebut persemesternya sama dengan biaya UKT gelombang keempat, bahkan bisa kurang dari itu. 

Mahasiswa bukanlah ladang uang buat petinggi-petinggi kampus ataupun petinggi pemerintah. Mereka adalah rakyat yang membutuhkan pendidikan agar mampu merubah bangsa ini menjadi lebih baik di usianya yang semakin tua. Pemerintah seharusnya mulai melihat dan belajar, problematika pendidikan di Indonesia harus terus dibenahi dengan tidak memberatkan golongan menengah kebawah dan menciptakan pendidikan yang adil dan merata. 


Masyarakatpun harus mulai pintar memilih. Masuk PTN bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang baik, apalagi PTN bukan lagi sebagai kampus yang murah, melainkan menjelma sebagai kampus yang mahal. Kampus mahal belum tentu kualitasnya bagus, bahkan bisa jauh dibawah PTS. Sudah saatnya masyarakat melihat pendidikan bukan dari biayanya, tapi dari kualitasnya. Kalau kita cermati dengan seksama, soal biaya kuliah hanya kesungguhan dari orangtua dalam bekerja, anak dalam belajar, dan doa dari mereka yang akan menjawabnya. Rezeki sudah diatur oleh Sang Pencipta, tinggal bagaimana mengeluarkannya.

Movies Post

Sports

Music

Music

Business

IpTek

Games

Video

Fashion

Berita

728x90 AdSpace

Travel

Link List

Fashion

Label

Design

Movies

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Fashion

Sports

Movies

News

Latest News

Slider

Recent Post

Games

Popular Posts

Ads

Blogroll 2

Random Post

Links

sains